Mulang Pakelem adalah upacara adat Hindu Bali yang digelar sebagai bentuk penghormatan dan penyucian setelah terjadi tragedi tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali.

Upacara ini tidak hanya mengandung nilai spiritual yang mendalam, tetapi juga menjadi media penghiburan dan harapan bagi keluarga korban, termasuk istri korban yang berharap agar suaminya ditemukan dalam keadaan selamat.
Peristiwa ini membuka luka mendalam bagi masyarakat dan keluarga yang terdampak, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga keselamatan dan keharmonisan alam laut. Di bawah ini Info Kejadian Bali akan membahas prosesi Mulang Pakelem beserta doa serta harapan istri korban demi kepastian nasib orang terkasih.
Latar Belakang Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya
KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali pada 2 Juli 2025 sekitar pukul 23.35 WIB. Kapal tersebut mengangkut 66 orang terdiri dari 12 anak buah kapal dan 53 penumpang, serta kendaraan roda empat yang hendak menyeberang dari Banyuwangi menuju Gilimanuk, Bali.
Kapal kehilangan kontak radio dan mengalami kemiringan sebelum akhirnya tenggelam. Operasi pencarian korban dilakukan secara intensif oleh tim SAR gabungan selama hampir 20 hari, tetapi banyak korban yang masih belum ditemukan.
Upacara Mulang Pakelem di Selat Bali
Menindaklanjuti tragedi ini, Pemerintah Kabupaten Jembrana bersama Desa Adat Gilimanuk dan PT ASDP Indonesia Ferry melaksanakan upacara Mulang Pakelem pada 25 Juli 2025 di perairan Selat Bali.
Upacara ini merupakan tradisi spiritual Hindu Bali yang berfungsi untuk menyucikan laut. Memohon keselamatan pelayaran, serta menjaga keseimbangan alam dan ekosistem maritim yang penting bagi masyarakat lokal. Ritual ini juga menjadi simbol pelestarian tradisi budaya yang memperkuat identitas masyarakat Bali sekaligus sebagai bentuk penghormatan bagi korban.
Baca Juga: Tragedi KMP Tunu Pratama, Koster Minta Pemilik Kapal Penyeberangan Dievaluasi
Prosesi dan Makna Sakral Upacara Mulang Pakelem

Upacara Mulang Pakelem dipimpin oleh tiga sulinggih (pendeta Hindu Bali), dan diikuti oleh ratusan masyarakat, tokoh adat, dan unsur pemerintah. Prosesi diawali dengan pecaruan (upacara penyucian) di dermaga Gilimanuk dan ditandai dengan pelarungan seekor kerbau ke tengah laut menggunakan kapal ferry.
Kebo (kerbau) tersebut menjadi simbol persembahan kepada kekuatan alam dan penjaga laut. Yang dipercaya dapat memulihkan keseimbangan antara manusia dan alam sekitar. Upacara ini tidak hanya bersifat ritual keagamaan tetapi juga memiliki fungsi sosial sebagai ungkapan duka dan harapan bersama.
Harapan dan Doa Keluarga Korban, Khususnya Istri Korban
Keluarga korban, terutama istri korban, menanggung beban psikologis yang berat akibat peristiwa ini. Seperti yang dialami oleh Kadek Sudiartini, istri dari Putu Mertayasa. Salah satu korban yang sebelumnya sempat bermimpi bertemu suaminya sebelum jenazah ditemukan.
Kasus ini menunjukkan harapan dan doa keluarga yang tiada henti agar suami atau anggota keluarga mereka ditemukan dalam keadaan selamat. Jika tidak, mereka berharap jenazah korban dapat ditemukan untuk memberikan ketenangan hati.
Istri korban sering menjadi sosok yang kuat dan tabah menghadapi situasi sulit ini. Mereka berjuang demi kesejahteraan keluarga yang ditinggalkan serta mencari kepastian tentang nasib suami mereka.
Pentingnya Keselamatan dan Refleksi Masyarakat Setelah Tragedi
Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya menjadi pengingat penting bagi semua pihak terkait dalam menjaga keselamatan pelayaran di perairan Selat Bali. Mulang Pakelem berfungsi tidak hanya sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai refleksi bersama atas keselamatan dan keharmonisan dengan alam sekitar.
Pemerintah dan masyarakat diharapkan rutin melaksanakan upacara ini sebagai bentuk komitmen menjaga tradisi sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko di laut. Upacara ini diharapkan mampu membawa ketenangan bagi keluarga korban sekaligus menguatkan masyarakat dalam menghadapi risiko alam dan menjaga keberlangsungan hidup di wilayah pesisir.
Kesimpulan
Upacara Mulang Pakelem di Selat Bali bukan sekadar tradisi biasa. Upacara ini menjadi representasi harapan, doa, dan penghormatan mendalam dari masyarakat serta keluarga korban KMP Tunu Pratama Jaya. Terutama para istri korban yang berharap suami mereka ditemukan dan keluarga mendapatkan kedamaian.
Ritual ini menegaskan ikatan spiritual budaya Bali dengan lautan sebagai sumber kehidupan dan pengingat pentingnya menjaga keselamatan warga yang melintasi Selat Bali. Ikuti terus Info Kejadian Bali agar Anda tidak ketinggalan informasi menarik lainnya yang terupdate setiap hari.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.detik.com
- Gambar Kedua dari bali.tribunnews.com