Jelang Idul Adha, peternak di Klungkung mengeluhkan sepi pembeli sapi serta tekanan harga yang semakin menurun di pasaran.
Menjelang Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi, sejumlah peternak sapi di Klungkung, Bali, justru menghadapi situasi yang tidak biasa. Alih-alih ramai pembeli, mereka mengaku kesulitan menjual sapi ternak karena permintaan pasar yang melemah. Kondisi ini membuat peternak mulai khawatir akan nasib ternak mereka yang sudah dirawat berminggu-minggu.
Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di Info Kejadian Bali.
Permintaan Melemah
Kelompok Sistem Pertanian Terintegrasi atau Simantri Satya Sujati di Desa Gelgel, Klungkung, menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya. Ketua kelompok, I Ketut Sudarsa, mengatakan permintaan bibit sapi tahun ini sangat minim, bahkan hampir tidak ada. Ia menilai penurunan ini terasa lebih dalam dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ia menyebut kondisi ini berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Saat Idul Adha masih ramai, banyak petani datang membeli bibit dengan harga tinggi, sehingga sapi yang dibesarkan pun mudah terjual. Kini, suasana pasar terasa hening dan peternak hanya bisa menunggu dengan pasrah.
Menurut Sudarsa, lemahnya permintaan membuat harga jual ikut merosot. Ia menilai situasi tersebut bukan hanya menekan keuntungan, tetapi juga memukul semangat para peternak untuk terus merawat ternaknya. Banyak dari mereka mulai mempertimbangkan opsi lain untuk mengurangi kerugian.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Harga Turun
Sudarsa mengaku kondisi ini sudah terasa sejak beberapa tahun sebelumnya, namun tahun ini dampaknya lebih terasa menjelang Idul Adha. Ia bahkan meragukan anggapan bahwa harga sapi selalu naik saat mendekati hari raya kurban. Tren penurunan ini membuat perencanaan jangka panjang peternak menjadi kacau.
Menurutnya, jika harga benar-benar bagus, peternak seharusnya tidak kesulitan menjual sapi. Kenyataannya justru sebaliknya, sebab banyak petani enggan membeli bibit baru karena pasar pembelian terasa lesu. Situasi ini juga berdampak pada rantai pasok ternak di wilayah sekitar.
Ia juga mengeluhkan beban biaya pakan yang terus berjalan meski sapi belum laku. Karena itu, banyak peternak merasa usaha mereka semakin berat dan tidak lagi memberi keuntungan seperti dulu. Beban finansial ini membuat beberapa mulai mengurangi skala ternak mereka.
Baca Juga: Bukan Sekadar Penginapan Biasa! Guest House Di Kuta Diduga Jadi Pusat Scam WNA
Keluhan Peternak
Sudarsa mengatakan para petani yang ia bina turut mengeluh karena sapi-sapi mereka tak kunjung terjual. Bahkan, sebagian mulai kehilangan semangat untuk mengurus ternak karena hasilnya tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan. Keluhan serupa juga terdengar dari peternak lain di kawasan Gelgel.
Ia menuturkan bahwa pada masa-masa sebelumnya, peternak justru bisa meraup untung besar jelang Idul Adha. Saat itu, banyak yang berani meminjam modal ke bank untuk membeli bibit sapi karena penjualan dinilai menjanjikan. Kini, kepercayaan terhadap pasar ternak sudah merosot drastis.
Namun kini, kondisi sudah berubah. Dengan harga yang tak menentu dan pasar yang sepi, peternak menjadi lebih berhati-hati, bahkan cenderung menahan diri untuk menambah modal usaha. Banyak yang memilih bertahan dengan stok ternak yang ada sambil berharap permintaan membaik mendekati hari H.
Harga Bibit Naik
Berbeda dengan keluhan Sudarsa, Ketua BUMDes Kampung Gelgel, Mashuri, menyampaikan bahwa sapi bantuan program pemerintah pusat justru mengalami kenaikan harga. Menurutnya, kenaikan itu mulai terlihat sejak usai Idul Fitri. Meski begitu, tren ini tidak berlaku untuk semua jenis ternak.
Mashuri menjelaskan, harga anakan sapi yang sebelumnya berada di kisaran Rp 10 juta hingga Rp 12,5 juta kini naik menjadi sekitar Rp 14 juta. Kenaikan ini disebut terus berlangsung hingga menjelang Idul Adha. Faktor program pemerintah dianggap memberi pengaruh positif pada segmen tertentu.
Perbedaan pandangan antara peternak dan pengelola BUMDes menunjukkan bahwa kondisi pasar ternak di Klungkung tidak sepenuhnya seragam. Ada yang merasa tertekan oleh lemahnya penjualan, tetapi ada pula yang melihat peluang harga naik pada segmen tertentu. Situasi campuran ini membuat pasar ternak tahun ini terasa tidak menentu.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi seru tentang Bali kami hadirkan setiap hari nya spesial untuk Anda, hanya di sini Info Kejadian Bali.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari detik.com