Banjir kembali melanda Desa Pancasari, Kabupaten Buleleng, Bali, akibat alih fungsi lahan yang mengubah vegetasi hulu menjadi area bangunan.
Anggota Komisi VIII DPR RI, I Ketut Kariyasa Adnyana, menekankan bahwa kerusakan lingkungan ini meningkatkan risiko bencana. Pemerintah dan masyarakat didorong untuk melakukan kajian mendalam serta menata ulang tata ruang agar banjir tidak terus berulang.
Temukan berita terkini dan informasi menarik seputar Bali di Info Kejadian Bali.
Banjir Pancasari Dipicu Perubahan Fungsi Lahan
Maraknya alih fungsi lahan disebut sebagai faktor utama yang memicu banjir di Desa Pancasari, Kabupaten Buleleng, Bali. Fenomena ini mendapat perhatian serius dari pemerintah maupun wakil rakyat setempat, mengingat dampaknya terhadap kehidupan warga dan lingkungan.
Anggota Komisi VIII DPR RI, I Ketut Kariyasa Adnyana, yang membidangi kebencanaan, menyatakan bahwa persoalan banjir di Pancasari bukan hal baru. Beberapa bencana serupa tercatat pernah terjadi di desa tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
“Waktu itu kita sudah memperbaiki drainase dan membuat saluran, sehingga kondisinya cukup reda. Tapi sekarang muncul lagi, tentu ini harus dikaji penyebab utamanya,” ujar Kariyasa di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Jumat (23/1/2026).
Alih Fungsi Vegetasi di Hulu Jadi Sorotan
Kariyasa menekankan bahwa salah satu penyebab paling menonjol banjir adalah alih fungsi vegetasi di kawasan hulu. Lahan yang semestinya ditanami tanaman keras kini banyak berubah menjadi area bangunan, sehingga kemampuan tanah menahan air berkurang drastis.
“Sekarang kan banyak terjadi alih fungsi, terutama alih vegetasi. Hulu yang semestinya tanaman keras, sekarang diganti tanaman yang tidak bisa menahan tanah,” kata dia. Dampak dari perubahan ini tidak hanya memicu banjir, tetapi juga berpotensi menimbulkan longsor dan erosi.
Selain itu, Kariyasa menegaskan bahwa kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan selalu berbanding lurus dengan meningkatnya risiko bencana. “Kalau alam tidak dijaga, itu pasti akan menimbulkan bencana. Ini tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat,” tambahnya.
Baca Juga: Tragedi Nusa Penida, Karyawan SWRO Tewas Tersengat Listrik Saat Periksa Pompa Air
Kajian Komprehensif dan Tata Ruang Jadi Kunci
Dalam upaya mencegah banjir ke depan, Kariyasa mendorong dilakukan kajian yang lebih mendalam untuk memastikan penyebab banjir secara komprehensif. Analisis ini diperlukan agar penanganan bisa tepat sasaran dan tidak hanya bersifat sementara.
Kajian itu diharapkan mencakup kondisi hidrologi, kualitas vegetasi, serta dampak pembangunan di kawasan hulu. Dengan data yang lengkap, pemerintah bisa merumuskan langkah mitigasi bencana yang efektif dan berkelanjutan.
Selain itu, penataan ulang tata ruang menjadi penting agar lahan kembali sesuai fungsinya. Hal ini akan menjaga keseimbangan lingkungan, sekaligus mengurangi risiko banjir bagi masyarakat di hilir.
Mitigasi Bencana Peran Semua Pihak
Kariyasa menekankan bahwa mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. Partisipasi aktif warga dalam menjaga lingkungan, menanam pohon, dan tidak melakukan alih fungsi lahan sembarangan menjadi kunci utama.
“Pencegahan banjir harus dilakukan bersama, mulai dari pemangku kebijakan hingga masyarakat. Jika semua pihak peduli, risiko bencana bisa diminimalkan,” ujarnya.
Langkah-langkah pencegahan ini, menurut Kariyasa, akan lebih efektif jika didukung regulasi yang tegas terkait tata ruang dan konservasi lingkungan. Dengan demikian, bencana yang sama tidak akan berulang di masa depan.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi seru tentang Bali kami hadirkan setiap hari nya spesial untuk Anda hanya di sini Info Kejadian Bali.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari denpasar.kompas.com
- Gambar Kedua dari denpasar.kompas.com