Populasi babi Bali mencapai 1,2 juta ekor, menghadapi ancaman African Swine Fever, namun vaksin ASF belum tersedia.
Bali menghadapi tantangan besar menjaga kesehatan ternaknya, terutama babi, sapi, dan anjing, di tengah ancaman penyakit. Populasi babi mencapai 1,2 juta ekor, tetapi ketersediaan vaksin African Swine Fever (ASF) masih menjadi perhatian utama. Vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi serta rabies pada anjing terus digalakkan untuk melindungi sektor peternakan.
Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di Info Kejadian Bali.
Kondisi Vaksinasi Ternak di Bali
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, I Wayan Sunada, menyatakan bahwa Bali belum menerima bantuan vaksin African Swine Fever (ASF) untuk babi. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat populasi babi Bali terus meningkat, mencapai sekitar 1,2 juta ekor pada 2025, membutuhkan sekitar 1 juta dosis vaksin untuk perlindungan optimal.
Sebaliknya, Bali telah menerima vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) untuk sapi, yang proses vaksinasinya sedang berjalan dengan baik. Selain PMK, vaksin Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit pada sapi juga telah diterima. Tahap pertama Bali memperoleh 400 dosis, disusul 6.000 dosis tambahan, menunjukkan upaya pemerintah dalam melindungi ternak sapi.
Saat ini, pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali telah mengusulkan pengadaan vaksin ASF ke pemerintah pusat dengan dukungan anggota DPRD Bali. Usulan ini telah mendapat persetujuan dari Kementerian Pertanian, namun jumlah dosis yang akan diterima masih menunggu kepastian, yang diharapkan dapat segera terealisasi untuk melindungi peternak babi.
Tantangan Penyakit Pada Ternak Babi Dan Sapi
Kasus penyakit pada babi sempat terjadi, seperti di Kabupaten Buleleng, di mana 30 ekor babi terserang diare atau diskulera. Penyakit ini diakibatkan oleh pemberian pakan mentah yang tidak diolah dengan baik, menunjukkan pentingnya praktik pemberian pakan yang higienis. Pihak berwenang telah turun tangan untuk mengecek dan menangani kasus tersebut.
Selain diare, kasus hog cholera juga sempat ditemukan di Kabupaten Gianyar, menambah daftar penyakit yang mengancam populasi babi di Bali. Penyakit-penyakit ini memerlukan pengawasan ketat dan tindakan pencegahan yang efektif untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dan kerugian bagi peternak.
Untuk PMK, dua kabupaten yang sempat terdampak adalah Jembrana dan Buleleng. Di Jembrana, kasus meningkat dari lima menjadi 31 ekor, namun berhasil ditangani melalui vaksinasi dan pemotongan bersyarat, sehingga penyebarannya tidak meluas. Di Buleleng, hanya dua ekor yang terdampak dan sudah tertangani.
Baca Juga: DAMRI Buka Rute Jakarta-Bali Tiket Mulai Rp 590 Ribu, Siap Healing
Pencegahan Rabies Dan Inovasi Vaksin
Dalam upaya pencegahan rabies, pada tahun 2026 ini belum ada kasus kematian akibat gigitan anjing di Bali. Ini menunjukkan keberhasilan program vaksinasi rabies yang telah dijalankan secara intensif. Pada tahun 2025, capaian vaksinasi rabies mencapai 85,51 persen dari total populasi anjing sekitar 600 ribu ekor.
Pemerintah Provinsi Bali juga sedang melaksanakan program role model vaksinasi rabies di Kabupaten Bangli. Program ini bekerja sama dengan Sanbi Farma untuk menguji ketahanan (titer) vaksin dalam tubuh anjing, bertujuan untuk menemukan formulasi vaksin yang paling efektif.
Jika hasil uji coba tersebut menunjukkan efektivitas yang bagus, Pemprov Bali berencana untuk menggunakan vaksin tersebut secara lebih luas. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan efikasi vaksinasi rabies dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi populasi anjing di seluruh Bali.
Suara Peternak Dan Harapan Bantuan Pusat
Ketua Umum BPD HIPMI Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, yang akrab disapa Ajus Linggih, secara langsung menyampaikan keluhan peternak babi Bali kepada Menteri Pertanian RI. Ia menyoroti minimnya bantuan vaksin ternak, khususnya untuk babi, dibandingkan dengan sapi dan ternak lainnya yang telah mendapatkan vaksin gratis.
Ajus Linggih menegaskan bahwa peternak babi lokal menghadapi tekanan berat, mulai dari ancaman penyakit hingga anjloknya harga akibat masuknya babi dari luar daerah. Ia meminta agar impor babi dihentikan untuk menstabilkan harga dan membantu pemulihan ekonomi peternak lokal yang merasa “dianaktirikan.”
Selain itu, ia juga mendesak pemerintah pusat untuk segera menyediakan vaksin ASF bagi peternak babi di Bali. Harapan besar ditumpukan pada pemerintah agar segera merealisasikan bantuan vaksin ini demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan peternak babi di pulau dewata.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi seru tentang Bali kami hadirkan setiap hari nya spesial untuk Anda, hanya di sini Info Kejadian Bali.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari balipost.com
- Gambar Kedua dari baliexpress.jawapos.com